Senin, Februari 6, 2017
Home > Kewirausahaan > Asap rokok yang kian menipis dan pelajaran berharga dari Putera Sampoerna

Asap rokok yang kian menipis dan pelajaran berharga dari Putera Sampoerna

Ikhtisar penelitian dari salah satu lembaga penelitian di FKM UI yang mengatakan orang akan berhenti merokok kalau harga rokok 50 ribu menjadi pemicu sebuah isu yang menjadi viral di dunia maya. Isu kenaikan cukai rokok berhasil menarik perhatian public. 
Hasbullah Thabrany, mengatakan bawah Upaya mengendalikan konsumsi rokok, yang paling efektif dengan harga mahal. Fakta di dunia menunjukkan, harga rokok yang mahal menahan laju konsumsi. Untuk membuat rokok mahal itulah dipungut cukai rokok. Cukai rokok bukan kontribusi industri rokok. Pemerintah negara-negara berbudaya menetapkan harga dan cukai rokok tinggi untuk mengendalikan konsumsi. 
Bak gayung bersambut, Tulus Abadi dari YLKI pun menguatkan pendapat itu. Menurut Tulus, seperti dikutip oleh Tirto.id, Tarif cukai dan harga rokok di Indonesia termasuk yang terendah di dunia sehingga anak-anak dan masyarakat miskin masih bisa menjangkau. 
Masih menurut Tulus, sudah seharusnya harga jual rokok mahal melalui tarif cukai yang tinggi. Cukai merupakan instrumen untuk membatasi dan mengendalikan suatu barang yang perlu dikendalikan dan dibatasi. Dan dukungan kepada kenaikan cukai rokok pun mendapat banyak dukungan. 
Ramai-ramailah media mengangkat isu ini. Meski, dari pihak bersebrangan pun muncul reaksi dan penolakan kepada wancana tersebut. Perang argument tak terhindari. Sebelum isu semakin merebak, pemerintah angkat suara bahwa wancana itu bukan berasal dari pemerintah, melainkan hanya dari lembaga penelitian di salah satu kampus elit Negeri ini. 
Sebagai isu seksi nan sensitive, persoalan kenaikan cukai rokok memantik pro kontra antara yang setuju dan tidak setuju. Saya mencatat salah satu isu yang diangkat oleh penentang kenaikan cukai rokok adalah nasib petani tembakau. Yah, petani tembakau adalah salah satu pemangku kepentingan yang diseret-seret dan dibenturkan kepada para pendukung kenaikan cukai rokok. 
Menjadi menarik memperbincangkan nasib petani tembakau ke depan. Meski isu kenaikan cukai rokok telah reda, sebenarnya nasib petani tembakau ke depan akan semakin sulit. Di dalam negeri mereka akan terkena pengaruh dari kenaikan cukai rokok. Presiden Joko Widodo dalam kampanyenya menjanjikan program Nawacita. Dalam Nawacita 5, Joko Widodo berjanji akan meningkatkan kualitas hidup bangsa ini, antara lain, melalui pendidikan (target 1) dan kesehatan (target 2). Dalam target 2 nomor 20 dari Nawacita 5, ia menjanjikan 100 persen area publik bebas asap rokok di 100 persen kabupaten/ kota pada 2019. Dalam target nomor 21. ia berjanji meningkatkan cukai rokok 200 persen dari nilai pada 2019, mulai 2015. Memang terlalu muluk presiden Joko widodo membuat janji seperti itu. 
Meski demikian, saya menangkap bahwa ada semangat untuk menaikan cukai rokok, meski saya juga yakin nilainya tidak akan sebesar janji kampanye. Mau naik 50 atau 100 perak atau berapapun nilainya kemudian, cukai rokok tetap naik. Masalah lain muncul dari dunia internasional terkait FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Tentu ada desakan agar Indonesia menekan perjanjian tersebut. Hal yang membuat industry rokok kian terjepit. Lantas apa yang sebaiknya dilakukan oleh petani tembakau agar tidak terkubur dikemudian hari 
Pelajaran dari Putera Sampoerna 
Jauh hari sebelum isu kenaikan cukai rokok booming, sebelas tahun lalu khalayak dihebohkan oleh aksi Putera Sampoerna. Tepat sebelas tahun yang lalu, tiba-tiba saja Putera Sampoerna, generasi ketiga dari Sampoerna, menjual pabrik rokoknya. 18 Maret 2005 Putera Sampoerna menjual 98% atau mayoritas saham HMS senilai Rp 48 Triliun ke PMI. 
Tindakan melepas seluruh saham itu tentu sangat mengejutan. Sebab, saat itu HMS sedang berkembang dan pemiliknya tidak dalam kesulitan keuangan. Bahkan kinerja HMS (2004) dalam posisi sangat baik dengan berhasil memperoleh pendapatan bersih Rp 15 triliun dengan nilai produksi 41,2 miliar batang. 
Mengapa Putera melepas perusahaan keluarga yang sudah berumur lebih dari 90 tahun ini? Itu pertanyaan yang muncul di tengah pelaku bisnis dan publik kala itu. Belakangan publik memahami visi Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005 versi Majalah Warta Ekonomi ini (Warta Ekonomi 28 Desember 2005). Dia melihat masa depan industri rokok di Indonesia akan makin sulit berkembang. Agnes Kurniawan membuat sebuah analisa SWOT terhadap HM Sampoerna. Hasilnya dijelaskan sebagai berikut: 

Faktor Internal (Strenght): Posisi merek yang mantap; Tim manajemen yang kuat; Penentuan harga yg efektif; Dukungan pemasaran yang terarah (iklan); Program distribusi wilayah yang terfokus; Pemahaman Sampoerna yang mendalam tentang bisnis rokok kretek di Indonesia; Mempunyai Corporate Social Responsibility (CSR) yang tinggi; Memiliki modal yang kuat; Culture yang baik.
Faktor Internal (Weakness): Biaya operasional naik, yaitu minyak tanah sebagai bahan bakar untuk alat pengering naik.
Faktor Eksternal (Opportunities): Ekonomi Indonesia sedang tumbuh; Lapangan kerja baru telah banyak tercipta bisa menaikkan daya beli konsumen; Indonesia Negara konsumsi rokok terbesar ke-5 di dunia.
Faktor Eksternal (Threats): Aturan makin ketat seperti UU melarang iklan rokok dan merokok di tempat umum; Cukai makin mahal,; Adanya tariff tambahan; Kota-kota besar menuju bebas rokok (Sydney, Uni Eropa, Amerika, Jakarta, Hongkong); Tidak bisa mengharapkan pasar ekspor karena adanya kebijakan pemerintah di luar negeri untuk membatasi pasar rokok; Ancaman dari YLKI, WITT dan WHO; Semakin banyaknya edukasi tentang bahaya merokok “kanker”; Melemahnya daya beli masyarakat akibat naiknya harga BBM. 

Hasil analisis SWOT, seperti yang telah disebutkan oleh Agnes Kurniawan menunjukkan bahwa HMS memiliki banyak kekuatan, tapi untuk jangka panjang industri rokok tampak kurang berprospek akibat banyaknya ancaman dari lingkungan luar. Grand strategy HMS adalah kombinasi yakni melakukan unrelated diversification dengan masuk ke bisnis lain dan melepas kerajaan rokoknya. Secara revolusioner Putera Sampoerna mengubah bisnis intinya dari bisnis rokok ke agroindustri dan infrastruktur. 
Hal ini terungkap dari langkah-langkahnya setelah enam bulan melepas saham di PT HM Sampoerna. Ia mendirikan Sampoerna Strategic sebagai transformasi bisnisnya. Dalam laman www.sampoernastrategic.com disebutkan bahwa PT Sampoerna Strategic (“PT SS”) adalah perusahaan swasta yang bergerak di bidang penanaman modal, berkedudukan di Indonesia dan merupakan bagian dari Sampoerna Strategic Group. Selain Putera Sampoerna Foundation, yang merupakan institusi bisnis sosial pertama di Indonesia, Sampoerna Strategic Group saat ini hadir di lima sector industri, yaitu: perkebunan, keuangan, properti, telekomunikasi, dan pengolahan kayu. Sampoerna Strategic Group merupakan transformasi bisnis Sampoerna setelah melepas usahanya di industri rokok pada tahun 2005. 
Putera Sampoerna memang seorang pebisnis visioner yang mampu menjangkau pasar masa depan. Berbagai langkahnya seringkali tidak terjangkau pebisnis lain sebelumnya. ia juga merupakan seorang change maker, pemimpin yang mampu melihat jauh ke depan. Ia melihat bahwa ke depannya, asap rokok kian menipis. Maka Putera Sampoerna mulai mengalihkan kemudi bisnisnya ke arah agroindustri, infrastruktur dan telekomunikasi. Diliriknya agroindustri, karena Indonesia kaya akan sumber daya alam yang berhubungan dengan pertanian dan perkebunan. 
Epilog 
Rhenald Kasali dalam buku Change! Pernah menulis bahwa tidak ada kata lain dalam ilmu manajemen atau praktis bisnis yang begitu magis dan misterius selain kata change (perubahan). Ia bahkan dianggap sebagai sesuatu yang paling magis di dunia ini. Kadang ia melekat pada diri seseorang dan bekerja begitu kuat. Getarannya dirasakan sampai urat-urat nadi, dan begitu ia berjalan di samping kita, dunia seakan bergetar. Kita bisa membencinya karena change menghancurkan sesuatu yang sudah bertahun-tahun berjalan dengan normal. Seperti badai tsunami atau tornado, ia mempunyai kekuatan menghancurkan yang luar biasa. Setelah itu, hal-hal yang dimunculkannya tampak begitu strange (asing). Aneh. Kita pun menolaknya. Bahkan melawannya. Tapi hal baru itu bukanya binasa. Malah tumbuh dan menjadi besar. 
Perubahan pada industry rokok akan terjadi. Masalahnya tidak semua orang, apalagi petani tembakau, bisa diajak melihat perubahan itu. Sebagian besar orang malah hanya melihat memakai mata persepsi. Hanya mampu melihat realitas, tanpa kemampuan melihat masa depan. Masih menurut Rhenald Kasali, sebenarnya perubahan besar tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebelum gelombang besar dengan kekuatan tinggi datang, ia telah lebih dulu mengirim signal-signal yang juga tidak kecil.  Saat itu juga, seharusnya siapapun yang menerima signal-signal itu merespon dengan berubah. Tetapi karena didiamkan, gelombang besar itu sama sekali tidak bisa membuat anda bertahan. Anda bahkan tercerabut sampai ke akar-akarnya dan tumbang. 
Signal-signal perubahan industri rokok ke arah senjakalanya sudah bergema berkali-kali. Bukan hanya sekedar wancana kenaikan cukai rokok. Lihatlah analisa swot dari Agnes Kurniawan di atas. Saat Putera Sampoerna menjual seluruh saham perusahaan rokoknya pada PMI, sebenarnya kondisi industry rokok sedang stagnan. 
Menurut catatan Adrian Rusmana, kepala peneliti BNI Securities, dalam tiga tahun terakhir sebelum 2005 pertumbuhan pendapatan perusahaan rokok di Bursa Efek Jakarta (BEJ) berada di bawah level 10%. Akan tetapi, untunglah, saham perusahaan rokok masih diminati investor asing. Hal itu karena likuiditas yang tinggi dan kapitalisasi pasar yang besar. “Kalau kapitalisasi pasar dan likuiditasnya berkurang, saya kira saham perusahaan rokok tidak akan populer lagi,” kata Adrian. Namun, semua kondisi tadi membuat bisnis rokok sejatinya sudah tak bisa lari ke mana-mana lagi, alias sudah mentok. “Ini industri yang mulai terbenam. Maka, tak mengherankan jika sejumlah pemilik perusahaan rokok memilih mengembangkan usahanya di luar bisnis rokok.” Keluarga Hartono, pemilik Djarum, mengembangkan usaha di dunia perbankan dengan menguasai saham di salah satu perbankan swasta besar Indonesia, yaitu BCA. Keluarga ini juga memiliki usaha e-commerce dengan Blibli.com. Selain itu, keluarga ini juga memiliki perusahan-perusahaan lain yang bergerak diberbagai sektor.
Dan ketik industri rokok masuk ke senjakalanya, pihak yang terpukul paling dalam adalah petani tembakau. Karena merekalah yang paling terlambat melakukan perubahan dan tertinggal dalam kenangan kejayaan masa lalu. Sementara pemilik perusahaan rokok sudah jauh-jauh hari melebarkan usahanya ke bidang lain. Putera Sampoerna malah memberikan pelajaran paling menohok, jual saja perusahaannya saat nilai jualnya tinggi dan beralih ke bidang lain.
Mau tidak mau petani tembakau harus berbenah dan mencoba melebarkan usahanya pada komoditas lain. Salah satu komoditas industrial yang karakter lahannya mirip dengan tanaman tembakau serta pemenuhannya masih impor adalah jagung, khususnya jagung untuk pakan ternak. Di Tangerang perhari lebih dari 50 ton jagung diproses jadi pakan ternak, sebagian impor dari luar negeri seperi Brazil dan india, dan impor dari provinsi lain seperti Gorontalo. Atau komoditas lain yang bisa dikembangkan sesuai dengan hasrat sendiri.

Tulisan ini hanya sekedar untuk membuka diskusi. Sekian!

Referensi Agnes Kurniawan.why Putera sold his Sampoerna? Diturunkan dari https://agneskurniawan.wordpress.com/2009/03/26/tanya-kenapa-putera-menjual-sampoerna-nya Anonim.Biografi Putera Sampoerna – Pemilik PT Sampoerna. Diturunkan dari http://www.biografiku.com/2009/12/biografi-putera-sampoerna-pemilik-pt.html Hasbullah Thabrany.Rokok dan Nawacita.Diturunkan dari http://print.kompas.com/baca/2016/04/27/Rokok-dan-Nawacita
Rhenald Kasali. 2005.Change!. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
YLKI: Seharusnya Cukai Rokok Tinggi. Diturunkan dari https://tirto.id/20160822-50/ylki-seharusnya-cukai-rokok-tinggi-305193

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *