Senin, Februari 6, 2017
Home > inspirasi > Menulis untuk melawan Traumatis

Menulis untuk melawan Traumatis

Saya menderita psychosomatic malignant karena kehilangan pendamping saya selama 48 tahun 10 hari. Jadi saya menulis untuk terapi penyembuhan,” -BJ. Habibie-

Anda tahu film laris Habibie & Ainun? Film yang dibintangi Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari itu diadaptasi dari buku laris berjudul sama yang ditulis oleh eyang BJ Habibie. Tapi tahukah anda bahwa buku Habibie & Ainun adalah hasil terapi trauma kehilangan yang begitu dalam dari sang Presiden ke 3 Republik Indonesia itu? Kalau belum kebetulan ada kisah dibalik buku tersebut.

Buku Habibie & Ainun
Tempo pernah memuat wawancara dengan BJ Habibi tentang proses penulisan buku tersebut. Ternyata buku yang menggambarkan perjalanan cinta Habibie dengan istrinya, Hasri Ainun Habibie, adalah hasil dari treatment psikologi. Ketika wartawan Tempo bertanya apakah Buku ini ditujukan untuk Sang isteri?
Eyang Habibie menjawab bahwa ini untuk terapi diri. Keadaan eyang Habibie tidak menguntungkan (dalam pengantar buku disebutkan mengalami psychosomatic malignant) karena mempengaruhi organ jantung, ginjal, semua. Sampai dokter mengatakan, kalau eyang Habibie tidak di-treatment, paling banter tiga bulan eyang Habibie (bakal) nyusul Ibu.
Ternyata gejala psychosomatic malignant muncul bukan sejak menunggu sang isteri terbaring lemah di rumah sakit. Melainkan setelah sang pendamping setia dalam suka dan duka pergi untuk selamanya. Eyang Habibie diberi saran oleh dokter tiga hal, yaitu “curhat” kepada sejumlah teman dan sahabatnya maupun sahabat sang isteri; kedua, menjalani terapi psikiatris dan dengan obat; yang ketiga, eyang Habibie harus hadapi sendiri dengan berdialog kepada diri sendiri. Dan eyang Habibie ambil yang ketiga karena gelombang emosi dan topan emosinya tidak bisa diprediksi.
“Kalau yang pertama dan kedua, gelombang emosi muncul saat tidak ada orang-orang itu bagaimana? saya akan bergantung pada tim atau berada di rumah sakit, gila apa saya?”  begitu kata eyang Habibie
Sejak kapan menulis? Eyang Habibie menjawab awal Juni. Dua pekan setelah sang penyejuk mata meninggal. Dalam bulan pertama, Eyang Habibie menulis dengan terus menangis, mengenang istri yang sangat dicintainya. Sampai perlahan-lahan kondisinya membaik dan bisa berdamai dengan kehilangan dan duka yang begitu luar biasa dalam. Dan sampai tulisan ini dibuat, Habibie masih ada dan terus beraktivitas di usia senjanya.
Menulis sebagai terapi
Dalam Quantum writing karangan Harnowo, disebutkan bagaimana menulis itu bisa menjadi obat dan bahkan membuat si penulis menjadi sehat dan menambah kekebalan tubuh. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr.Pennebaker, seorang psikolog dari Amerika. Menurut Dr. Pennebaker mereka yang menuliskan trauma bahkan bila itu trauma terburuk sekalipun ternyata akan lebih mudah melupakan atau setidaknya mengatasi masalah trauma tersebut.
Memang dalam jangka pendek setelah kita menulis hal-hal yang menjadi trauma kita hal itu akan membuat kita teringat dengan trauma kita dan membuat kita jatuh ke dalam kesedihan atau trauma yang lebih dalam. Mungkin alasan inilah yang banyak membuat orang malas atau enggan menuliskan tentang trauma, mereka hanya mencoba melupakan dengan beralih kepada hal-hal lain. Hal ini seperti lari dari masalah dan tidak menyelesaikan trauma itu. Menurut penelitian itu, kesedihan paska penulisan trauma itu hanya berlangsung beberapa hari saja. Dalam jangka panjang mereka yang telah menulis pengalaman traumatisnya ternyata jauh lebih tegar dan mengelola trauma mereka. Lebih lanjut Dr. Pennebaker mengatakan bahwa, Orang-orang yang menuliskan pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis menunjukan peningkatan fungsi kekebalan tubuh dibandingkan dengan orang-orang yang menuliskan masalah-masalah remeh temeh. Menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang mereka alami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik.
Nah, bagi kamu yang punya pengalaman traumatis, sekarang ambilah kertas dan pulpen. Tuliskan semua resah dan gundah anda dalam tulisan itu. Tak perlu perhatikan struktur dan ejaan. Tulis saja semua yang ingin kamu tulis. Seperti Habibie yang berjuang melawan traumatisnya.
Semoga bermanfaat.
@penayunus
Referensi:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *